Selasa, 28 Mei 2013
Dengan ekspektasi yang seharusnya, nikmati pertunjukan aksinya..
sejak franchise The Fast and The Furious merambah ke keluarga film summer movies, maka saya yang belum siap menghadapinya menjadi orang yang menonton dengan perasaan kecewa, saat menonton Fast 5. Dengan ekspektasi yang berbeda, Furious 6 ternyata memberikan tampilan yang lebih baik dari sebelumnya.
Dengan mengangkat benang cerita yang akhirnya menyambung ke Fast and Furious sebelumnya, tema yang diangkat adalah acceptable untuk kelas film summer. Dengan nuansa aksi, film ini menunjukkan hebatnya keterampilan kebut-kebutan , lucunya humor yang diberikan (dan benar-benar lucu), explotion scenes yang menjadi bumbu utama dari film aksi.
Cast yang muncul cukup mengangkat kisah yang sebenarnya dapat disederhanakan ini. Tapi tentunya masyarakat kita selain menunggu sang 'pentolan' Vin Diesel, pasti juga menunggu adegan dari Joe Taslim yang diberi porsi lumayan untuk peran pendukung. Pengalaman bertahun-tahun di seri ini membuat para artisnya menjadi 'peka lingkungan' dan tidak mengganggu secara umum.
Dengan ramuan yang tidak memberi promise berlebih selain laga dan hiburan, film ini cukup direkomendasikan, dan layak untuk menjadi teman menghilangkan stress berlebihan saat bekerja. Cant wait to see Fast 7..emm..Furious 7..or whatever they will name it
Furious 6 (sesuai di film): 7,0/10 - Tidak berlebihan, menjanjikan laga yang dibuat maksimal dan yang lebih penting..menghibur. Lupakan logika anda,tinggalkan di rumah dan enjoy the fun!
Jumat, 10 Mei 2013
Seluruh Karakter yang unik tidak berarti ngga mampu berbaur di kisah yang penuh kegembiraan kan..
Ngga salah kan kalau sekali-sekali kita nonton film kesukaan buah hati. anak saya sedang hobi nonton film buatan Dreamworks ini. Paling lucu adalah saat dia membaca titlenya dengan suara keras dan percaya diri: ' Madagaskar sama singaaaa'. Percayalah anda cari dimana-mana ngga ada judul film itu. :)
Ini adalah bagian ketiga dari animasi kebanggaan Dreamworks, Madagascar. Dibuat dengan tampilan penuh warna, keceriaan dimana-mana, kelucuan yang sungguh lucu dan power dari karakter utamanya yang bisa dibagi sama rata. Walau Alex the lion adalah karakter yang menonjol, dia sendirian tidak akan membuat film ini bertahan tanpa sahabat zebra, kuda nil, jerapah , sekumpulan pinguin, raja kukang dan lain -lain. Pembauran karakter-karakter tersebut sungguh menarik perhatian karena digambarkan secara unik didalam cerita yang cukup menarik perhatian segala umur.
Tidak salah bila film ini cukup menghibur, dan bahkan anak seusia anak saya akan mengingat beberapa adegannya dengan jelas, dan bila dilihat beberapa kali akan ingat dialog khasnya. Dan apa lagi yang dicapai oleh sebuah film selain diingat oleh penontonnya , kalau perlu selamanya. Usaha keras yang sangat berhasil membawa Madagascar 3 ini mencapai sebuah titik hiburan maksimal yang mengetengahkan kegembiraan, dan makna persahabatan, yang umum ada di setiap film hiburan dengan pesan yang mudah dicerna anak kecil sekalipun.
Bila film ini tidak ada kelanjutannya, saya sendiri tidak masalah karena menurut saya dari awal sampai seri ketiganya , seperti sebuah kisah yang terus berkelanjutan dengan hal-hal unik di setiap serinya. Bravo Dreamworks!
Madagascar: Europe's Most Wanted (2012): 8,2/10 Full color entertainment sebagai puncak serial yang menarik. Patut dikoleksi!
Ini adalah bagian ketiga dari animasi kebanggaan Dreamworks, Madagascar. Dibuat dengan tampilan penuh warna, keceriaan dimana-mana, kelucuan yang sungguh lucu dan power dari karakter utamanya yang bisa dibagi sama rata. Walau Alex the lion adalah karakter yang menonjol, dia sendirian tidak akan membuat film ini bertahan tanpa sahabat zebra, kuda nil, jerapah , sekumpulan pinguin, raja kukang dan lain -lain. Pembauran karakter-karakter tersebut sungguh menarik perhatian karena digambarkan secara unik didalam cerita yang cukup menarik perhatian segala umur.
Tidak salah bila film ini cukup menghibur, dan bahkan anak seusia anak saya akan mengingat beberapa adegannya dengan jelas, dan bila dilihat beberapa kali akan ingat dialog khasnya. Dan apa lagi yang dicapai oleh sebuah film selain diingat oleh penontonnya , kalau perlu selamanya. Usaha keras yang sangat berhasil membawa Madagascar 3 ini mencapai sebuah titik hiburan maksimal yang mengetengahkan kegembiraan, dan makna persahabatan, yang umum ada di setiap film hiburan dengan pesan yang mudah dicerna anak kecil sekalipun.
Bila film ini tidak ada kelanjutannya, saya sendiri tidak masalah karena menurut saya dari awal sampai seri ketiganya , seperti sebuah kisah yang terus berkelanjutan dengan hal-hal unik di setiap serinya. Bravo Dreamworks!
Madagascar: Europe's Most Wanted (2012): 8,2/10 Full color entertainment sebagai puncak serial yang menarik. Patut dikoleksi!
Minggu, 28 April 2013
it's just an 'ok' start for summer 2013
ok, kalau bicara soal Iron Man, setelah tahun lalu tayang dengan tim Avengers dan melihat track film-filmnya sebelum ini, pantaslah instalasi yang ketiga ini mendapatkan tantangan lebih tinggi. Tangangan dari sisi manapun, baik dari kisah, perkembangan karakter sampai kekuatan musuh.
Untuk itulah kisah ini diluncurkan. Dengan musuh yang disebut the Mandarin. Mungkin anda bisa lihat di wiki siapa itu the mandarin, tapi yang jelas kekuatannya lebih dari musuh iron man sebelumnya. Dan uniknya kinerja musuh iron man ini menarik sang tokoh utama untuk bekerja keras dan berpikir lebih pintar. Dasarnya Tony Stark adalah karakter yang jenius,bandel dan banyak akal (dan ini yang menarik dari tokoh ini dibanding superhero lain),membuat kisah ini semakin menarik untuk diikuti sampai akhir.
Pertanyaan yang menggelitik saya saat awal menonton film ini adalah, apakah film ini akan terpengaruh oleh gaya Christopher Nolan dengan karya fenomenalnya, The Dark Knight. Dengan memperhatikan trailer Man of Steel yang nantinya diprediksi akan ke arah sana, Iron Man 3 seakan hanya sedikit mengubah beberapa pengambilan gambar sehingga menjadi lebih berbicara dibandingkan sebelumnya.Dan tidak disangkal, hal ini menjadi salah satu kejutan di film ini. Selanjutnya, semua dilakukan dengan pakem sang superhero. Jadi tidak perlu khawatir, sang jagoan akan tetap seperti yang sudah dikenal. Hanya perkembangan kisah memang cukup baik dan tidak mengecewakan.
Hal yang mengecewakan? Hmm.. dialognya kadang tidak berhasil di awal-awal, surprisingly kadang beberapa karakter tidak berperan dengan natural, dan mungkin lain kali ngga perlu pakai aktor sekelas Ben Kingsley untuk karakter ini, sama seperti saat keputusan memasang Mickey Rourke di seri keduanya. Menggelikan sekali menurut saya, apa ngga ada aktor yang mau main dengan peran itu?
Awal summer movie 2013 diawali dengan film ini. Tidak mengecewakan. Tidak sabar menunggu deretan film summer berikutnya!
Iron Man Three : 7,7/10 - Awal summer 2013 tidak mengecewakan. Tidak spektakuler, tapi bisa dinikmati. Cukup bertahan dengan setting adaptasi seri sebelumnya, dengan peningkatan kisah yang diusahan tidak kedodoran dimana-mana membuat film ini cukup memuaskan.
Untuk itulah kisah ini diluncurkan. Dengan musuh yang disebut the Mandarin. Mungkin anda bisa lihat di wiki siapa itu the mandarin, tapi yang jelas kekuatannya lebih dari musuh iron man sebelumnya. Dan uniknya kinerja musuh iron man ini menarik sang tokoh utama untuk bekerja keras dan berpikir lebih pintar. Dasarnya Tony Stark adalah karakter yang jenius,bandel dan banyak akal (dan ini yang menarik dari tokoh ini dibanding superhero lain),membuat kisah ini semakin menarik untuk diikuti sampai akhir.
Pertanyaan yang menggelitik saya saat awal menonton film ini adalah, apakah film ini akan terpengaruh oleh gaya Christopher Nolan dengan karya fenomenalnya, The Dark Knight. Dengan memperhatikan trailer Man of Steel yang nantinya diprediksi akan ke arah sana, Iron Man 3 seakan hanya sedikit mengubah beberapa pengambilan gambar sehingga menjadi lebih berbicara dibandingkan sebelumnya.Dan tidak disangkal, hal ini menjadi salah satu kejutan di film ini. Selanjutnya, semua dilakukan dengan pakem sang superhero. Jadi tidak perlu khawatir, sang jagoan akan tetap seperti yang sudah dikenal. Hanya perkembangan kisah memang cukup baik dan tidak mengecewakan.
Hal yang mengecewakan? Hmm.. dialognya kadang tidak berhasil di awal-awal, surprisingly kadang beberapa karakter tidak berperan dengan natural, dan mungkin lain kali ngga perlu pakai aktor sekelas Ben Kingsley untuk karakter ini, sama seperti saat keputusan memasang Mickey Rourke di seri keduanya. Menggelikan sekali menurut saya, apa ngga ada aktor yang mau main dengan peran itu?
Awal summer movie 2013 diawali dengan film ini. Tidak mengecewakan. Tidak sabar menunggu deretan film summer berikutnya!
Iron Man Three : 7,7/10 - Awal summer 2013 tidak mengecewakan. Tidak spektakuler, tapi bisa dinikmati. Cukup bertahan dengan setting adaptasi seri sebelumnya, dengan peningkatan kisah yang diusahan tidak kedodoran dimana-mana membuat film ini cukup memuaskan.
Selasa, 16 April 2013
begini lho contoh cara sang sutradara menyampaikan visi unik
Berapa banyak kisah cinta yang sudah anda lihat di cinema? Ok, kalau sudah banyak, maka coba anda perhatikan dari sekian banyak itu mana saja yang berkesan karena keunikannya. Mungkin tidak banyak, dan keunikan itu disampaikan di film ini.
Sutradara Wes Anderson tahun lalu membuat sebuah rilis kisah cinta yang mengetengahkan simbolistik lingkungan yang sudah sangat jarang ditampilkan secara nyata dan tegas mendominasi. Mungkin hanya film komedi yang masih memunculkannya. Tapi metoda ini dijadikan jalurnya untuk menceritakan kisah percintaan dua remaja yang masing-masing memiliki masalah.
Memang film ini tidak terlalu memberikan arahan yang mendalam mengenai masalah karakternya masing-masing, karena cukup sibuk dalam urusan sinematografi yang (masih) dapat diterima tapi tetap terkesan tidak real seratus persen demi menjaga keunikannya. Namun kesetiaannya pada teknik ini patut diacungi jempol, karena tidak banyak film yang bisa menjaga konsistensinya dan bercampur dengan metoda lain.Dapat dipahami bila tidak terlalu banyak berbicara dalam ajang oscar karena sejatinya semua dibuat dengan sederhana. Kekuatan Anderson saja yang mampu mengangkat scene-scene menjadi memiliki penekanan dasar yang seakan penonton ditekankan dalam-dalam seperti guru yang memberi pelajaran pada muridnya. Tapi pelajaran ini untungnya sampai ke benak penontonnya. Great!
Moonrise Kingdom (2012): 8,4/10 :simple, dan dibuat dari tangan yang cekatan dan konsisten, membuat film ini cukup bisa dinikmati dengan visi sang sutradara.
Sutradara Wes Anderson tahun lalu membuat sebuah rilis kisah cinta yang mengetengahkan simbolistik lingkungan yang sudah sangat jarang ditampilkan secara nyata dan tegas mendominasi. Mungkin hanya film komedi yang masih memunculkannya. Tapi metoda ini dijadikan jalurnya untuk menceritakan kisah percintaan dua remaja yang masing-masing memiliki masalah.
Memang film ini tidak terlalu memberikan arahan yang mendalam mengenai masalah karakternya masing-masing, karena cukup sibuk dalam urusan sinematografi yang (masih) dapat diterima tapi tetap terkesan tidak real seratus persen demi menjaga keunikannya. Namun kesetiaannya pada teknik ini patut diacungi jempol, karena tidak banyak film yang bisa menjaga konsistensinya dan bercampur dengan metoda lain.Dapat dipahami bila tidak terlalu banyak berbicara dalam ajang oscar karena sejatinya semua dibuat dengan sederhana. Kekuatan Anderson saja yang mampu mengangkat scene-scene menjadi memiliki penekanan dasar yang seakan penonton ditekankan dalam-dalam seperti guru yang memberi pelajaran pada muridnya. Tapi pelajaran ini untungnya sampai ke benak penontonnya. Great!
Moonrise Kingdom (2012): 8,4/10 :simple, dan dibuat dari tangan yang cekatan dan konsisten, membuat film ini cukup bisa dinikmati dengan visi sang sutradara.
Jumat, 05 April 2013
usaha yang lumayan bagi film animasi anak-anak lokal
wah, sekarang waktunya anak saya yang ngajak nonton. Dan pilihan jatuh ke film ini. Sejatinya adalah film iklan es krim, promosi yang dilakukan sampai membuat film seperti ini adalah strategi yang cukup baik. Dengan ide sentral tetap pada barang dagangannya :)
Melanjutkan film sebelumnya, petualangan Paddle Pop kembali untuk mencari sisa dari es yang belum didapatkan, tentunya dengan scene-scene yang cukup menyenangkan untuk anak-anak seusia anak saya. Walau sekedar adegan tempelan tanpa berkaitan jelas dengan alur utama ceritanya, namun usaha untuk membuat sub plot sederhana dan menarik cukup mendapat apresiasi karena bagi film segala umur, cara ini sangat efektif bagi pemanfaatan konsentrasi anak yang tidak bisa bertahan lama. walau memang bagi orang dewasa menganggap adegannya tidak penting, tapi tidak bisa disangkal usaha membangunnya sudah lumayan.
walau beberapa adegan saya agak mengantuk tapi cukuplah usaha karya film ini untuk membangun porsi animasi yang masih sedikit dibuat di film indonesia. yang penting, anak-anak senang, produk sudah diiklankan jelas, dan orang dewasa pun tidak berharap akan mendapat sesuatu yang bombastis bukan? cukup ajak anak anda dan nikmati dari sudut pandang mereka. Oh ya, ada ekstra klip Coboy Junior lho hehehe...
Petualangan singa pemberani 2: 5,9/10 : usaha yang cukup baik, kisah sederhana dengan sub plot yang tidak terlalu sinkron dengan alur utama. Tapi itulah dunia anak-anak, tidak perlu terlalu paham sebuah plot panjang sampai lebih dari 1 jam, karena film itu sesuatu yang menyenangkan menurut mereka.
Melanjutkan film sebelumnya, petualangan Paddle Pop kembali untuk mencari sisa dari es yang belum didapatkan, tentunya dengan scene-scene yang cukup menyenangkan untuk anak-anak seusia anak saya. Walau sekedar adegan tempelan tanpa berkaitan jelas dengan alur utama ceritanya, namun usaha untuk membuat sub plot sederhana dan menarik cukup mendapat apresiasi karena bagi film segala umur, cara ini sangat efektif bagi pemanfaatan konsentrasi anak yang tidak bisa bertahan lama. walau memang bagi orang dewasa menganggap adegannya tidak penting, tapi tidak bisa disangkal usaha membangunnya sudah lumayan.
walau beberapa adegan saya agak mengantuk tapi cukuplah usaha karya film ini untuk membangun porsi animasi yang masih sedikit dibuat di film indonesia. yang penting, anak-anak senang, produk sudah diiklankan jelas, dan orang dewasa pun tidak berharap akan mendapat sesuatu yang bombastis bukan? cukup ajak anak anda dan nikmati dari sudut pandang mereka. Oh ya, ada ekstra klip Coboy Junior lho hehehe...
Petualangan singa pemberani 2: 5,9/10 : usaha yang cukup baik, kisah sederhana dengan sub plot yang tidak terlalu sinkron dengan alur utama. Tapi itulah dunia anak-anak, tidak perlu terlalu paham sebuah plot panjang sampai lebih dari 1 jam, karena film itu sesuatu yang menyenangkan menurut mereka.
Sabtu, 30 Maret 2013
Pesta akting di film dengan sentuhan puitis tapi tidak sentimentil
Joaquin Phoenix. Philip Seymor Hoffman. Amy Adams.
Sekali lagi, kembali naskah film ini membebaskan ruang gerak ketiga tokoh utama diatas dalam banyak setting, dan semuanya berhasil. Kisah tahun 1950-an mengenai seorang yang disebut Master (Hoffman) yang menyebarkan semacam ajaran untuk motivasi , yang cenderung mengarah ke hipnosis, harus mendapatkan tantangan untuk menyembuhkan kondisi seorang yang emosinya tidak stabil, yang diperankan oleh Phoenix tentunya.
Keinginan untuk membicarakan lagi kualitas akting sepertinya harus ditahan , karena bisa-bisa jadi sangat panjang. Namun, film ini adalah sebuah perjalanan, sebuah usaha, sebuah kebohongan, sebuah tekanan batin dan psikologi. Dicampur , divisualisasikan melalui... *once again* seluruh energi aktor-aktrisnya. Jadi seperti tahun 2010 saya keluar dari bioskop dengan rasa puas menonton kualitas akting di film the Fighter, tahun ini saya mengalami hal serupa. Memang, cerita film ini masih kalah dengan kontender film-film terbaik di Oscar 2013, tapi cukuplah untuk Phoenix memerankan seorang yang emosional, Hoffman yang karismatik dan terlihat wise, dan Adams dengan matanya yang selalu tegas itu.
The Master (2012) :7,7/10 : it's about acting. dan cukup sudah. sayang tahun ini diganjal oleh Daniel Day lewis memerankan Lincoln dengan sempurna, dan Christoph Walz memerankan karakter yang unik dan sangat berhasil. Jika tidak ada mereka, mungkin Oscar 2013 akan seperti The Fighter di Oscar 2011.
*kok komennya cuma itu?
Ya karena film ini berkembang menjadi ajang adu akting yang matang dari mereka.sungguh-sungguh matang. Sayang sekali film ini tidak seberuntung the Fighter (2010), yang memadukan dengan sukses 4 aktor-aktrisnya dan akhirnya memangkan Oscar.
Sekali lagi, kembali naskah film ini membebaskan ruang gerak ketiga tokoh utama diatas dalam banyak setting, dan semuanya berhasil. Kisah tahun 1950-an mengenai seorang yang disebut Master (Hoffman) yang menyebarkan semacam ajaran untuk motivasi , yang cenderung mengarah ke hipnosis, harus mendapatkan tantangan untuk menyembuhkan kondisi seorang yang emosinya tidak stabil, yang diperankan oleh Phoenix tentunya.
Keinginan untuk membicarakan lagi kualitas akting sepertinya harus ditahan , karena bisa-bisa jadi sangat panjang. Namun, film ini adalah sebuah perjalanan, sebuah usaha, sebuah kebohongan, sebuah tekanan batin dan psikologi. Dicampur , divisualisasikan melalui... *once again* seluruh energi aktor-aktrisnya. Jadi seperti tahun 2010 saya keluar dari bioskop dengan rasa puas menonton kualitas akting di film the Fighter, tahun ini saya mengalami hal serupa. Memang, cerita film ini masih kalah dengan kontender film-film terbaik di Oscar 2013, tapi cukuplah untuk Phoenix memerankan seorang yang emosional, Hoffman yang karismatik dan terlihat wise, dan Adams dengan matanya yang selalu tegas itu.
The Master (2012) :7,7/10 : it's about acting. dan cukup sudah. sayang tahun ini diganjal oleh Daniel Day lewis memerankan Lincoln dengan sempurna, dan Christoph Walz memerankan karakter yang unik dan sangat berhasil. Jika tidak ada mereka, mungkin Oscar 2013 akan seperti The Fighter di Oscar 2011.
Senin, 18 Maret 2013
Disney! It's Oz!!! Mengapa hanya setengah hati?
Sam raimi sedang uji coba? entah benar atau tidak, tapi itulah yang saya rasakan saat menonton karya terakhirnya ini. Mencoba memadukan konsistensi gaya dari beberapa besutannya sebelumnya, ditambah dengan paduan warna dan pendekatan (boleh dikatakan sedikit pendekatan) ala Tim Burton yang jago (atau hobi) membuat karya semi gothic-artistic, membuat film ini seakan mencari jati dirinya.
Ditambah lagi dengan beban legenda Oz sang Wizard, namun sayang sekali tidak didukung oleh script yang memukau dan mungkin bagi saya beberapa karakter salah casting, menjadi film ini semakin aneh saja. Dan, kemunculan Tony Cox semakin membuat saya menepuk jidad berkali-kali , karena begitu dia muncul saya selalu teringat film komedi yang memparodikan film-film box office, seperti Disaster Movie,Epic Movie dllnya.
The best ? hmmm... pengaturan sinematografinya tetap jempolan, arahan plotnya lumayan bagi yang dekat dengan storytelling ala kisah imajinasi, walaupun beberapa shot seharusnya bisa dibuang karena tidak terlalu signifikan untuk ceritanya, tapi sepertinya hanya dipakai untuk mempercantik 3D effect-nya. James Franco is average, not good but not bad at all.
Kalaupun ada kelanjutannya, tentang The Wizard of Oz, mungkin perlu banyak perkembangan disana sini, karena dengan arah film-film fiksi dan fantasy serta legenda yang menuju arah yang berbeda akhir-akhir ini, model film ini harus berjuang keras untuk tetap bisa eksis di kelanjutannya.Ini adalah salah satu kisah legendaris, jadi sayang jika Disney menuangkan karya sinemanya dengan setengah-setengah. Film ini malah menjadi bukti kembali, bahwa film fantasi sebelum summer kemungkinan besar banyak cacatnya.
Oz The Great and Powerful (6,8/10): What happened to Sam Raimi? Film ini masih cukup jauh dari rata-rata film fantasy jaman sekarang. Sayang banget kisah ini harus tetap tinggal di buku cerita.
Sabtu, 16 Maret 2013
Oh my ... makan tuh cult movie! :)
Gara-gara tahun kemarin nonton Ted, saya penasaran nonton film yang dibicarakan dan menjadi inspirasi karater utamanya. Apalagi kalau bukan "Flash Gordon". Kenapa penasaran? Salah satunya ingin tahu mengapa film ini seakan menjadi cult movie bagi mereka.
Dan terjadilah satu setengah jam menonton film dengan gelak tawa dan senyum cengar cengir, karena .. like other cult movies, film ini benar-benar mengingatkan penontonnya bahwa semakin ngga jelas filmnya, semakin baguslah film itu.Hahahaha. Kidding. Maksud saya, film ini hanya menjual aksi, soundtrack Queen, dan ketampanan dan kecantikan karakternya. Kisahnya? Ngga usah ditanya. Serunya? Jaman sekarang sudah ngga seru lagi. Alurnya? kadang ngga penting. The best part? Ming! Hanya dia yang bermain bagus menyelamatkan kisah hero yang pada jaman sekarang sudah menjadi sampah saja. Ngga peduli RT memberi rating bagus, tapi maaf, bagi saya dengan film star wars yang muncul 3 tahun sebelum film ini dirilis saja, Flash ngga bisa disamakan!
Mungkin itu saja, ngga banyak yang bisa dikomen dari film ini, lha nontonnya juga karena penasaran dan iseng :)
Flash Gordon (1980): 5,3/10 : film ini memang ngga pakai logika dan alur , tapi sepertinya memang ngga penting bagi penulis naskahnya. mungkin star wars perlu balance of the force, yang satu keren , yang satu.. umm.. mencoba keren :)
Dan terjadilah satu setengah jam menonton film dengan gelak tawa dan senyum cengar cengir, karena .. like other cult movies, film ini benar-benar mengingatkan penontonnya bahwa semakin ngga jelas filmnya, semakin baguslah film itu.Hahahaha. Kidding. Maksud saya, film ini hanya menjual aksi, soundtrack Queen, dan ketampanan dan kecantikan karakternya. Kisahnya? Ngga usah ditanya. Serunya? Jaman sekarang sudah ngga seru lagi. Alurnya? kadang ngga penting. The best part? Ming! Hanya dia yang bermain bagus menyelamatkan kisah hero yang pada jaman sekarang sudah menjadi sampah saja. Ngga peduli RT memberi rating bagus, tapi maaf, bagi saya dengan film star wars yang muncul 3 tahun sebelum film ini dirilis saja, Flash ngga bisa disamakan!
Mungkin itu saja, ngga banyak yang bisa dikomen dari film ini, lha nontonnya juga karena penasaran dan iseng :)
Flash Gordon (1980): 5,3/10 : film ini memang ngga pakai logika dan alur , tapi sepertinya memang ngga penting bagi penulis naskahnya. mungkin star wars perlu balance of the force, yang satu keren , yang satu.. umm.. mencoba keren :)
Kamis, 21 Februari 2013
All in good hands!
Apa yang sebenarnya ingin anda lihat ketika pada awal sebuah film, terdapat pernyataan bahwa kisahnya berdasarkan pada kejadian nyata? Bila anda sebelumnya tidak tahu, apakah anda akan mempedulikannya? Seberapa besar pengaruh 'based on true event' ini? Well, salah satu sutradara yang tampaknya peduli akan banyak aspek dari premis ini adalah Kathryn Bigelow.
Sutradara wanita ini, yang entah mengapa begitu hobinya membuat film-film bertemakan operasi militer, memiliki sebuah visi yang jelas mengenai film yang memiliki dokumentasi sejarah, yang akan berkaitan jelas dengan aslinya, perpaduan tontonan dramatis yang sangat ditunggu penggemar genre ini, runtun cerita yang detail dan jelas dan kisah yang tegas, karakteristik tokoh yang mendalam, sebagai syarat sebuah tontonan berkualitas dan tentunya disukai kritikus. Seakan sudah hafal dengan konsep dan rumusan ini, maka Bigelow tidak susah meramu materi film ini yang merupakan catatan sejarah Amerika dalam memburu teroris.
Dengan perpaduan seluruh resep diatas, seringkali film dengan genre serupa terjebak dengan pola sentralisasi pada karakter. Namun tidak pada film ini. Walaupun Maya sebagai karakter utama, yang dimainkan sangat gemilang oleh Jessica Chastain, esensi utama dan misi awal film ini cukup menyatu dengan baik seturut pengalaman hidup, dan keteguhan hatinya menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan. Perpaduan ini menjadi cukup enak untuk ditonton, karena penonton tidak akan kehilangan inti cerita, namun tetap memperhatikan dan memberikan porsi yang lumayan banyak untuk 'mempedulikan' karakter utamanya. Saya tidak tahu apakah karena Bigelow adalah seorang wanita, sehingga karakter ini cukup bersinar sebagai seorang sosok wanita tangguh yang tetap 'wanita'.
Overall, sebuah pertunjukan yang menarik, jarang bisa didapatkan dari sebuah true event yang seharusnya dirahasiakan. Dibandingkan dengan film senada seperti Argo, penggalian yang dilakukan penulis naskah terasa lebih dalam dan detail,sehingga Bigelow dengan mudahnya bermain dengan gaya khasnya disini,sehingga paduannya dilengkapi dengan aktor aktris yang kuat menjadikannya sebuah pertunjukan 2,5 jam yang detail,namun mengena.
Zero Dark Thirty (9,1/10): Di tangan yang benar, sebuah film menjadi suguhan yang seimbang antara otentik, storytelling, dan suspense. Great Job. Satu kontender Oscar yang sangat bagus.
Kamis, 14 Februari 2013
sebuah kisah sesi-sesi terapi yang sederhana namun berbicara banyak
Satu lagi film yang mengetengahkan hal yang tidak biasa. Agak naif kalau bicara 'tidak normal', karena film ini tidak bicara mengenai perjuangan hidup seseorang yang mengalami kelainan. Dimana banyak film menceritakan perjuangan hidup atau penderitaan atau simpati, film ini menceritakannya layaknya pengalaman umum dari orang normal, yang kebetulan adalah seseorang yang mengalami kelainan fisik.
Mark O'Brien adalah seorang jurnalis , yang kemudian mengalami lumpuh dari leher ke bawah karena penyakit polio. Pada akhir hidupnya, dia menceritakan pengalaman yang unik: melakukan sesi terapi. Terapi kesehatan? Hmmm.. tepatnya terapi seksual. Cheryl Cohen-Greene, adalah terapis seksualitas. Pekerjaan apa itu? Membantu masalah seksual. Namun profesi ini ditampik kalau disamakan dengan pelacuran, karena ini benar-benar terapi. Hubungan Mark dan Cheryl pun kebanyakan diceritakan secara gamblang di 3/4 jalan cerita, dan uniknya pengalaman ini pun dikonsultasikan oleh Mark dengan seorang pastur yang tetap memberi dukungan dan support bagi Mark.
Walau seakan Mark O'Brien yang mengkisahkannya, film ini seperti gabungan experience dari sudut pandang tokoh-tokoh pendukungnya, dan dia sendiri hanya sebagai pelengkap. Maka tidak salah apabila Helen Hunt yang berperan sebagai Cheryl lebih menonjol dikisahkan detailnya secara kontribusi dalam hidup Mark maupun kehidupan pribadinya. Peran William H.Macy sebagai pendetapun sebenarnya lebih pas apabila selain berperan, dia juga yang menarasikan kisah ini dari awal. Kisah ini dibuat dengan tidak melankolis, efektif dan to the point dengan bumbu yang tidak banyak.
Mungkin yang menarik perhatian adalah Helen Hunt sendiri yang harus rela telanjang bulat dan dishoot bekali-kali , namun Hunt sudah menunjukkan keprofesionalitasannya dalam peran. Bukan dalam artian profesionalnya dalam hal ketelanjangan, tapi transformasinya menjadi seorang terapis yang natural sangat dirasakan disini, sehingga film ini sungguh hidup. Hal yang unik mungkin tokoh pendeta yang walaupun dari gereja Katholik, namun sang romo berpendapat: ' mungkin Tuhan memberi free pas untuk anda'. Mmm.. mungkin ngga usah diperdebatkan dari sisi agama, karena film ini ngga akan mendapat sisi 'curcol' Mark kepada anda yang diwakili oleh sang pendeta itu sendiri. Dan itu penting.
So, its a good movie. Tidak mungkin memang film ini bakal diputar di bioskop kita, karena bila disensor ya inti ceritanya langsung hilang. Tapi kisah sederhana ini benar-benar dibuat serius dan bila anda jeli, bukan masalah hubungan seksnya yang dipentingkan, sehingga film ini tidak terjebak menjadi film porno.
The Sessions (2012): 7,7/10 : simple, hangat, pengerjaan serius, didukung akting Helen Hunt yang sudah masuk kategori profesional. Bila kita buang jauh-jauh masalah sensor, agama, dan lain-lain, maka ini adalah sebuah kisah sederhana yang mampu 'berbicara' pada anda.Based on true story and real events.
Mark O'Brien adalah seorang jurnalis , yang kemudian mengalami lumpuh dari leher ke bawah karena penyakit polio. Pada akhir hidupnya, dia menceritakan pengalaman yang unik: melakukan sesi terapi. Terapi kesehatan? Hmmm.. tepatnya terapi seksual. Cheryl Cohen-Greene, adalah terapis seksualitas. Pekerjaan apa itu? Membantu masalah seksual. Namun profesi ini ditampik kalau disamakan dengan pelacuran, karena ini benar-benar terapi. Hubungan Mark dan Cheryl pun kebanyakan diceritakan secara gamblang di 3/4 jalan cerita, dan uniknya pengalaman ini pun dikonsultasikan oleh Mark dengan seorang pastur yang tetap memberi dukungan dan support bagi Mark.
Walau seakan Mark O'Brien yang mengkisahkannya, film ini seperti gabungan experience dari sudut pandang tokoh-tokoh pendukungnya, dan dia sendiri hanya sebagai pelengkap. Maka tidak salah apabila Helen Hunt yang berperan sebagai Cheryl lebih menonjol dikisahkan detailnya secara kontribusi dalam hidup Mark maupun kehidupan pribadinya. Peran William H.Macy sebagai pendetapun sebenarnya lebih pas apabila selain berperan, dia juga yang menarasikan kisah ini dari awal. Kisah ini dibuat dengan tidak melankolis, efektif dan to the point dengan bumbu yang tidak banyak.
Mungkin yang menarik perhatian adalah Helen Hunt sendiri yang harus rela telanjang bulat dan dishoot bekali-kali , namun Hunt sudah menunjukkan keprofesionalitasannya dalam peran. Bukan dalam artian profesionalnya dalam hal ketelanjangan, tapi transformasinya menjadi seorang terapis yang natural sangat dirasakan disini, sehingga film ini sungguh hidup. Hal yang unik mungkin tokoh pendeta yang walaupun dari gereja Katholik, namun sang romo berpendapat: ' mungkin Tuhan memberi free pas untuk anda'. Mmm.. mungkin ngga usah diperdebatkan dari sisi agama, karena film ini ngga akan mendapat sisi 'curcol' Mark kepada anda yang diwakili oleh sang pendeta itu sendiri. Dan itu penting.
So, its a good movie. Tidak mungkin memang film ini bakal diputar di bioskop kita, karena bila disensor ya inti ceritanya langsung hilang. Tapi kisah sederhana ini benar-benar dibuat serius dan bila anda jeli, bukan masalah hubungan seksnya yang dipentingkan, sehingga film ini tidak terjebak menjadi film porno.
The Sessions (2012): 7,7/10 : simple, hangat, pengerjaan serius, didukung akting Helen Hunt yang sudah masuk kategori profesional. Bila kita buang jauh-jauh masalah sensor, agama, dan lain-lain, maka ini adalah sebuah kisah sederhana yang mampu 'berbicara' pada anda.Based on true story and real events.
Selasa, 12 Februari 2013
Temukan silver liningmu!
Melihat film ini serasa kembali ke tahun 1997, saat film nominasi oscar yang apik, as good as it gets, yang memiliki kualitas sangat baik dari sisi penggarapan dan akting yang dapat menyentuh emosi penonton, seakan diminggirkan oleh film fenomenal saat itu, Titanic. Film ini pun memiliki kisah yang nyaris serupa, dan bahkan menurut saya lebih baik dengan pendekatan komedi yang lebih mengena.
Bradley Cooper, Jennifer Lawrence..siapa menyangka chemistry mereka bisa dipadu dengan kondisi saling melengkapi di latar belakang, dan terlihat selfish di latar depan. Lawrence menemukan bintang besarnya disini. Casting mungkin sangat beruntung memilih aktris ini untuk mewakili karakter yang bimbang, emosional, addicted setelah menjanda. Jujur saja, saya hanya ingin melihat akting Jessica Castain di Zero Dark Thirty sebelum dengan mantap saya memprediksikan Jennifer Lawrence akan membawa pulang oscar nantinya. Semakin adegan menuju akhir, karakter Tifanny yang diperankannya akan semakin ditunggu penontonnya. Why? Tonton sendiri untuk mengetahuinya.
Adaptasi kisah ini tidak sulit untuk diikuti, diceritakan dengan energi yang tidak membosankan penonton, alurnya pun memiliki poin-poin signifikan yang akan selalu diingat penontonnya setelah film ini berakhir. Dan scene-scene tersebut tidak hanya satu dua, namun cukup banyak. Endingnya pun tidak terlalu memaksakan, dan sangat mengerti kondisi pemainnya dan kita pun akan merasakan emosi yang tidak over dari mereka. Bradley Cooper dan Robert DeNiro tentunya bermain cemerlang, namun (sekali lagi) Lawrence adalah bintangnya.
Silver Linings Playbook (2012) : 9,0/10 : Real life moments dari orang-orang 'tidak normal' digarap dengan tidak membosankan, maksimal dan didukung oleh pemain-pemain yang jempolan, Jennifer Lawrence sangat gemilang dan bersinar disini.
Minggu, 10 Februari 2013
beasts of the southern wild : apa yang anda bisa diharapkan dari seorang anak? ternyata sesuatu yang luar biasa!
Saat ini banyak film yang mencari keunikan dengan cara yang berbeda-beda. Salah satunya adalah dengan metoda kisah dengan latar penuturan dari tokoh utamanya sendiri. Bukan seperti adaptasi sinetron kita untuk mencari ketegangan atau mencari sensasi berlebihan , penuturan ini tidak mendominasi kisah, namun hanya sebagai penuntun penonton untuk lebih memahami latar belakang pemikiran karakter yang tidak akan muncul di visualisasinya,namun penuturan ini akan memperkuat scene yang sedang divisualkan di layar. Dan cara ini dilakukan oleh film ini, Beasts of the Southern Wild.
Jangan salah mengartikan dari sekedar membaca judulnya. Film ini bukan film kehidupan liar, bukan juga dokumenter tentang satwa hutan. Adalah seorang anak yang dipanggil Huspuppy yang tinggal bersama ayahnya di sebuah tempat kumuh yang merupakan tempat yang sesungguhnya tak dapat dihuni dan rawan tenggelam, kadang mereka menyebutnya dengan istilah Bathtub. Dalam kehidupannya untuk bertahan, memperhatikan keadaan ayahnya dan lingkungannya yang sungguh tidak terbayangkan untuk anak seusianya, Hushpuppy berimajinasi mengenai balance tentang lingkungan, belajar mengenai mimpi, kebersamaan, dan akhirnya menghadapi kenyataan perjuangan hidup diantara ego anak seusianya sendiri.
Sungguh sayang sebenarnya kalau saya ceritakan keseluruhan kisah ini disini. Adaptasi drama ini nyaris memiliki segalanya. Plot yang rapi, dan bahkan setiap adegannya tidak terbuang percuma. Kita akan diajak untuk melihat banyak aspek dalam kehidupan seorang anak. Dan bahkan keunikan film konteder oscarnya, Amour, yang mengedepankan uniknya makna cinta, film ini pun memilikinya dan berani dituturkan dengan kondisi yang jauh dari ideal sesorang membayangkan ada indahnya kasih di dunia seperti lingkungan Huspuppy. Ajakan untuk berfilosofi, berimajinasinya pun tak terlalu dipaksakan, namun cukup mendalam dengan tetap mengingat bahwa Huspuppy hanyalah seorang anak yang beranjak remaja. Beban besar memang diberikan pada pemerannya, Quvenzhané Wallis, yang dicatat sebagai peraih nominasi aktris terbaik termuda sepanjang masa di Academy Awards (9 tahun!), namun dia memang berhasil gemilang memerankan karakter utama film ini dengan nyaris sempurna.
Jadi tidak salah saya kira bila Oscar tahun ini melirik film ini menjadi nominasi Film terbaik, karena memang film ini sungguh layak. Saya pribadi tidak terlalu berharap film ini memenangkan oscarnya, cukuplah dunia tahu bahwa ada seorang anak yang bernama Huspuppy yang belajar menjadi beast, dan menitipkan imajinasinya ke para peneliti sains di dunia tentang keseimbangan dunia.
Beasts of the Southern Wild (2012) : 8,0 /10 : dunia anak yang lengkap namun penuh kesederhanaan dengan filosofi dan imajinasi yang tepat mendukung sebuah kisah yang memiliki kompleksitas pesan yang dibebankan pada seorang anak kecil. It's near perfect.
Jangan salah mengartikan dari sekedar membaca judulnya. Film ini bukan film kehidupan liar, bukan juga dokumenter tentang satwa hutan. Adalah seorang anak yang dipanggil Huspuppy yang tinggal bersama ayahnya di sebuah tempat kumuh yang merupakan tempat yang sesungguhnya tak dapat dihuni dan rawan tenggelam, kadang mereka menyebutnya dengan istilah Bathtub. Dalam kehidupannya untuk bertahan, memperhatikan keadaan ayahnya dan lingkungannya yang sungguh tidak terbayangkan untuk anak seusianya, Hushpuppy berimajinasi mengenai balance tentang lingkungan, belajar mengenai mimpi, kebersamaan, dan akhirnya menghadapi kenyataan perjuangan hidup diantara ego anak seusianya sendiri.
Sungguh sayang sebenarnya kalau saya ceritakan keseluruhan kisah ini disini. Adaptasi drama ini nyaris memiliki segalanya. Plot yang rapi, dan bahkan setiap adegannya tidak terbuang percuma. Kita akan diajak untuk melihat banyak aspek dalam kehidupan seorang anak. Dan bahkan keunikan film konteder oscarnya, Amour, yang mengedepankan uniknya makna cinta, film ini pun memilikinya dan berani dituturkan dengan kondisi yang jauh dari ideal sesorang membayangkan ada indahnya kasih di dunia seperti lingkungan Huspuppy. Ajakan untuk berfilosofi, berimajinasinya pun tak terlalu dipaksakan, namun cukup mendalam dengan tetap mengingat bahwa Huspuppy hanyalah seorang anak yang beranjak remaja. Beban besar memang diberikan pada pemerannya, Quvenzhané Wallis, yang dicatat sebagai peraih nominasi aktris terbaik termuda sepanjang masa di Academy Awards (9 tahun!), namun dia memang berhasil gemilang memerankan karakter utama film ini dengan nyaris sempurna.
Jadi tidak salah saya kira bila Oscar tahun ini melirik film ini menjadi nominasi Film terbaik, karena memang film ini sungguh layak. Saya pribadi tidak terlalu berharap film ini memenangkan oscarnya, cukuplah dunia tahu bahwa ada seorang anak yang bernama Huspuppy yang belajar menjadi beast, dan menitipkan imajinasinya ke para peneliti sains di dunia tentang keseimbangan dunia.
Beasts of the Southern Wild (2012) : 8,0 /10 : dunia anak yang lengkap namun penuh kesederhanaan dengan filosofi dan imajinasi yang tepat mendukung sebuah kisah yang memiliki kompleksitas pesan yang dibebankan pada seorang anak kecil. It's near perfect.
Langganan:
Postingan (Atom)